Posted by : Anto Suryanto Monday, 31 May 2010

Setiap pagi dan sore di hari kerja, pemandangan di jalanan kota-kota besar tampak selalu membikin miris : gemuruh suara knalpot dalam balutan kemacetan yang kian tak tertahankan. Ribuan pengendara sepeda kotor terus menderu membelah jalanan. Para penumpang bis angkutan umum saling bergelantungan dalam rona keletihan yang membuncah. Sementara para pengendara mobil pribadi hanya bisa menghela nafas, kenapa jarak 5 km harus ditempuh dalam waktu satu jam.

Tentu saja salah satu penyebab kemacetan adalah kian meledaknya jumlah penduduk di perkotaan (urbanisasi yang kian menggelontor makin membuat kota-kota besar limbung menahan beban). Namun sebab lain adalah ini : banyak perusahaan – menengah dan besar – yang memilih kantornya di pusat kota, atau paling tidak di tengah pusat keramaian.

Cobalah tengok area segitiga emas di kota Jakarta, antara ruas jalan Sudirman, Thamrin, dan Kuningan. Setiap bulan rasanya berdiri gedung perkantoran baru di tiga kawasan itu; dan sungguh ini membuat tiga jalan besar itu termehek-mehek menahan kegetiran (fenomena ini saya kira juga terjadi di kota besar lainnya di tanah air). Akibatnya fatal : setiap sore jalanan di kawasan-kawasan ramai itu benar-benar padat merayap.

Dan sungguh itu menjadi pukulan yang frontal bagi produktivitas karyawan. Ribuan jam mereka habiskan sia-sia di jalanan yang makin macet. Dan aha, tidakkan jalanan yang kian sumpek itu membuat mereka kian loyo, stress, dan tiba di kantor dengan muka yang sudah ucel-ucelan. Tidak fresh lagi maksudnya.

Itulah kenapa beberapa tahun terakhir muncul gagasan yang rasanya asyik untuk diterapkan : yakni membolehkan para karyawan bekerja dari rumah. Istilah keren bagi karyawan yang bekerja dari rumah adalah teleworker.

Praktek teleworker ini sudah lazim diterapkan di sejumlah negara luar. Dan dampaknya bisa sangat positif. Bagi para karyawan, kebijakan semacam ini tentu akan membuat mereka tidak harus setiap pagi dan sore berdesak-desakan di jalanan, dan membuang waktu sia-sia. Mereka juga bisa makin hemat dalam ongkos transportasi.

Dan ini yang penting : berdasarkan sejumlah riset, praktek teleworking ini berdampak positif bagi peningkatan produktivitas karyawan. Dalam jangka panjang, hal ini tentu juga akan memberikan manfaat positif bagi perusahaan.

Memang segera harus disampaikan bahwa kebijakan ini tidak bisa berlaku untuk semua jenis pekerjaan. Pekerjaan sebagai teller, direct salesman, atau cleaning service tentu ndak bisa dikerjakan dari rumah. Demikian juga pekerjaan sebagai perawat, mekanik di bengkel, atau teknisi di pabrik. Namun percayalah : banyak pekerjaan administratif, atau juga di bagian back office dan sejenisnya, yang bisa dikerjakan dari rumah. Dengan bantuan email dan intranet, pekerjaan semacam ini bisa dikoordinasikan dan dikerjakan secara remote.

Yang paling penting adalah ini : gagasan teleworking ini bisa dikerjakan jika suatu organisasi sudah memiliki result areas yang jelas untuk posisi yang hendak dikerjakan dari rumah. Dengan kata lain, konsep bekerja dar rumah ini memang sangat bersandar pada konsep result : please show me the results. “Gue ndak peduli elo mau kerja di hutan, di kafe atau di rumah…..yang penting laporan elo lusa harus kelar”. Demikian kira-kira jargon para teleworker.

Di tanah air sendiri, sudah ada beberapa perusahaan yang mencoba mempraktekannya. Saya kira sudah saatnya perusahaan di tanah air pelan-pelan berani memulai penerapan kebijakan teleworking ini. Saya percaya jika direncanakan dengan matang, kebijakan ini akan membuat win-win solution : karyawan happy, perusahaan juga akan dapat manfaat positif.

Yang pasti, dengan konsep teleworking ini, banyak karyawan kantor yang bisa berhenti menghabiskan usia di jalanan; di tengah raungan mesin dan asap knalpot yang terus menderu……


Sumber : Strategi Manajemen

Leave a Reply

Silahkan memberikan komentar di sini !

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments




Latest Posts

- Copyright © My Dream -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -